Terpesona oleh ‘Nagari’ Minangkabau – Part 1

Bermodal nekat, saya dan teman sehidup semati saya Ica pergi ke Nagari Minang, tepatnya ke Kota Batu Sangkar. Kami pergi berdua dengan maksud datang ke acara pernikahan sahabat kami Winda. Dari awal Winda sudah mewanti-wanti kami harus hadir. Awalnya mau pergi berempat bersama Ica (another Ica, biasanya kami sebut Icakek) dan suaminya, tapi karena Icakek ini hamil muda, maka dokter tidak mengizinkannya naik pesawat. Awalnya saya ragu Ica jadi pergi, karena dia juga takut naik pesawat dan perusahaan baru tempat dia akan bekerja memintanya masuk lebih cepat. Tapi saya bertekad kalo ica gak jadipun, tetap pergi kesana.

Hari yang ditunggu tiba, saya dan Ica akhirnya jadi pergi kesana. Sabtu dini hari kami pergi dari tempat tinggal kami di Jakarta Selatan, menuju Bandara Soekarno Hatta. Kami pergi jam 4 pagi padahal flight jam 7 lebih dan saya lupa kalo sabtu pagi itu Jakarta jarang sekali macet. Tapi tak apa, akhirnya sekitar jam 5.15 kami telah tiba dan telah melakukan pemeriksaan (fast). Kami melaksanakan solat subuh terlebih dahulu, baru kemudian masuk ke ruang tunggu sambil ngecas. Sekitar pukul 7 kami boarding (yay no delay!) dan masuk ke pesawat. Bawaan kami tak begitu banyak, untuk perjalanan 3 hari maka kami hanya membawa koper cabin size. Kurang lebih perjalanan dua jam kami tiba di Bandara Minangkabau, Kota Padang. Darisana kami naik travel menuju Bukittinggi, untuk kemudian bertemu teman kami, Yola. Kami kira perjalanan tidak terlalu jauh, tapi ternyata lumayan jauh dan yang paling berkesan yaitu semua orang di dalam travel berbicara bahasa minang, sedangkan saya dan Ica adalah orang sunda tok. Kami hanya tertawa saja sambil mencoba tidur, karena supirnya membawa mobil dengan cukup ekstrim. Yang membuat perjalanan cukup lama yaitu sistem travelnya adalah antar sampai tujuan, jadi sebelum ke tujuan utama yaitu Bukittinggi kami mengantar beberapa penumpang lain. Akhirnya sekitar jam 1 siang tibalah di Bukittinggi, tepatnya di icon kota tersebut.. Jam Gadang!!  Kami menunggu Yola, suami dan anaknya sambil foto-foto disana. Tapi karena masih panas, akhirnya kami memutuskan menunggu di Plaza yang tepat berada di sebrang jam gadang. Tak lama Yola tiba, hati senang karena sudah lama tak bersua. Ketika Yola sudah menikah dan memiliki 1 orang anak, sementara saya dan Ica masih single and very happy (padahal pengennya segera dilamar juga LOL). Karena lapar, kami ditawarkan mencicipi kuliner terlebih dahulu. Karena restoran padang tidak asing di tanah jawa, maka kami memutuskan untuk makan mie godok (saya lupa nama sebutannya), lokasinya ada di dalam pasar dekat Jam Gadang, nama tempatnya Palanta Soto H. Minah. Selain mie, sebenarnya disana menawarkan soto, tapi karena penasaran sama mienya, kami mencoba mie. Rasanya enak, satu porsi cukup banyak isinya tapi saya gak tau harga satu porsinya karena di traktir suaminya Yola, terima kasih Uda :D. Setelah makan kemudian kami antar Yola mencari kado untuk Winda. Karena saya juga ingin lihat kain tenun khas minang, maka saya tertarik menemaninya. Kata Yola, kain-kain itu nanti dijadikan baju kurung, baju kurung itu digunakan ketika nak daro (sebutan untuk pengantin) berkunjung ke rumah mertuanya. Selesai darisana, kami kembali ke Jam Gadang untuk foto-foto.

 

IMG_1538 (Small)
Makan mie godok sambil reunian
IMG_1543 (Small)
Jam Gadang

Setelah menikmati momen di jam gadang, Yola serta Uda mengantar kami ke cafe hits di Bukittinggi, namanya Taruko. Disana kami cuma ngemil-ngemil cantik sambil menikmati pemandangan.

Untuk tempatnya memang memukau dan banyak spot foto disana. Untuk menu yang disajikan bukan menu khas minang, tetapi lebih ke western. Untuk rasa makanan biasa saja menurut saya dan harganya masih cukup terjangkau. Setelah puas memanjakan mata, kami akhirnya bersama-sama pergi ke tujuan selanjutnya, Kota Batusangkar. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya tiba di kediaman Winda. Malam itu Winda sedang dihias tangannya menggunakan hena. Sambil melihat, kami ditawarkan makan lagi disana. Kami si anak lapar ini memutuskan makan lagi, walau sudah lebih dari jam 7 malam. Tapi tak apa, makanannya super enak. Mulai dari ayam balado, jengkol balado (most loved), rendang, sambal dan lain-lain. Next ceritanya akan dilanjut ke part 2.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: